Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Media Sosial Ini Beri Keuntungan Sekaligus Perlindungan Bagi Konten Kreator
#1
Basis sosial media Milio ingin memberikan peluang buat pembuat content (konten creator) untuk mendapatkan uang dari kekayaan cendekiawan (IP), sekalian jaga mereka masih aman dari pembajakan online.

Kenyataannya, perlindungan hak cipta di Indonesia belum juga optimal. International Properti Rights Index (IPRI) 2018 tempatkan Indonesia di tempat 11 dari 19 negara di Asia serta Oceania serta tempat 64 dari 125 negara dengan global.

Country Director RightsLedger Indonesia Rio. K Liauw menjelaskan, dengan pemakai internet yang sampai 130 juta serta tingginya online piracy, konten creator serta perusahaan mempunyai kekuatan kehilangan penghasilan besar sekali dari content yang mereka produksi. Karena sosial media serta online piracy sama-sama tersambung.

”Ini benar-benar bikin rugi content inisiator,” katanya lewat info resminya.

Pemilik Milio, RightsLedger ambil pendekatan berlainan dari basis sosial media tradisionil yang telah ada.

”Media sosial biasanya ambil hak cipta dari pencipta untuk di monetisasi tanpa ada memikul beban keuangan mereka untuk menghasilkan content bernilai,” katanya.

RightsLedger mengaplikasikan blockchain doa buka puasa  pada content digital yang diupload di basis mereka. Tehnologi blockchain dipakai untuk lakukan otentifikasi pemilikan content.

Mereka bekerja melalui tiga basis berlainan. Yaitu Milio, MilStage, serta MilDeals.

Milio adalah basis sosial media buat pemakai untuk mempromokan content mereka. MilStage ialah basis video streaming (video on permintaan) dimana inisiator serta pemirsa saling dapat mendapatkan keuntungan. Sedang MilDeals adalah marketplace untuk jual content dengan perlindungan IP.

Sama dengan sosial media lain, pembuat content bisa mengupload media dalam beberapa format ke basis Milio, seperti photo, video, audio, serta bahkan juga dokumen. Dengan automatis mereka mendaftarkannya ke blockchain yang memberikan otentifikasi pemilikan yang bisa dipakai untuk beberapa hal di waktu depan.

Diluar itu, RightsLedger mempunyai Rights Tokens—token digital yang dibuat dengan basis Ethereum—bagi inisiator yang menggunggah content ke beberapa basis, terhitung pemirsa yang lihat iklan.

"Jadi, buat inisiator serta pemirsa, semasing bisa membuahkan uang,” papar Magin Marriepan, VP Asia RightsLedger.

Lewat tehnologi blockchain, pemilikan hak cipta semua content yang diupload di basis RightsLedger nya masih ada di tangan inisiator. Hingga mereka bisa jual atau membagi content mereka ke faksi lain.

”Anda punya potensi membuahkan uang yang semakin besar dari content saat Anda mengatur hak cipta dari content Anda,” papar Hanny Yong, Country VP RightsLedger.

Dengan singkat, basis RightsLedger memakai tehnologi blockchain untuk membuat digital fingerprint (pemindaian sidik jari digital) untuk merekam serta mengonfirmasi pemilik satu content. Sedang Rights Tokens nantinya bisa menjadi cara pembayaran cross boarder.

”Kami ingin jadi perusahaan share ekonomi pertama untuk content digital sekaligus juga jadi basis yang sangat mungkin otentifikasi pemilikan dari semua content digital,” tutur Rio.

Dibangun oleh Ray Young di Amerika, RightsLedger sekarang berekspansi di Asia.




  


Forum Jump:


Users browsing this thread:
1 Guest(s)