Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Perempuan dan Budaya Arab Saudi
#1
Pengajian Ahad pagi yang dengan teratur dikerjakan oleh pengurus Jamaah Pengajian Illawwarra (JPI) Wollongong, barusan subuh berasa sedikit lebih tidak sama. Kami beberapa masyarakat negara Indonesia yang terbagi dalam mahasiswa serta pekerja, sedang melakukan tadarus Al-Qur’an dengan berganti-gantian, di Masjid Omar Wollongong.

Kami saling belajar, sama-sama melakukan perbaikan serta sama-sama mengingat bila ada kesalahan bacaan. Maklumlah, antara kami pasti masih ada yang tidak lancar bacaannya. Itu penyebabnya kami membuat tilawah dengan teratur.
Tadarus

Barusan di masjid, tidak hanya kami yang membuat tadarus, ada juga jamaah lain, dibagian depan saudara-saudara kita yang hadir dari beberapa asal negara doa ziarah kubur lakukan pengajian. Mereka menginap di masjid semenjak tempo hari sampai beberapa waktu ke depan. Ini seringkali kehadiran jamaah yang demikian. Hampir ada setiap bulan. Tidak hanya mereka ada juga satu-dua orang yang berzikir sendiri-sendiri.

Saat kami sedang tadarus, seorang bapak yang hampir tua, hadir mendekat ke kami. Ia meminta izin, supaya diperbolehkan duduk mendekat serta dengarkan bacaan kami. Walau tidak menggenggam mushab Qur’an, beliau ikuti tiap ayat yang kami baca.

Seringkali ia turut menyela serta melakukan perbaikan bacaan kami. Saya baru sadar jika Bapak ini seorang hafidz Qur’an. Ia tahu tiap harkat yang kami baca. Ia ulangilah baca serta terangkan posisi huruf sinyal bacanya. Terkadang sekalian pejamkan matanya.

Hampir satu jam kami tadarrus bersama-sama dan beliau mengajarkan kami. Pasti satu kesyukuran atas ini, atas pengetahuan yang ia beri. Bisa guru mengaji gratis, dari Arab juga.

Telah teratur sesudah tadarus, kami sarapan mudah ala kadarnya. Kesempatan ini saya buat kopi susu. Di masjid ada mesin pemasak air listrik serta ceretnya. Sedang beberapa bahan, kopi, susu, gelas, serta camilan saya bawa serta dari rumah. Kebetulan ibunya beberapa anak di dalam rumah berbaik hati, membikinkan kue tepung manis tempo hari. Itu yang kubawa ke masjid subuh ini. Masih berasa enak meskipun telah dingin.

Sesudah siap saji, saya ajak rekan-rekan sarapan. Tidak lupa bapak barusan turut kami ajak sarapan. Tetapi ia terlebih dulu salat sunnah suru’ dua rakaat. Kemudian, baru ia masuk dengan kami. Tuturnya dia paham kami dari Indonesia dari langkah serta suara kami tadarus.
Berteman dengan Wanita Arab Saudi

Sesudah narasi ini serta itu, kami sama-sama berteman. Ia seorang masyarakat negara Arab Saudi baru beberapa waktu datang di Wollongong. Beliau ialah seorang dosen dalam bagian tarbiyah yang telah pensiun. Saat ini ada di Australia sampai sekian waktu ke depan.

Maksudnya kesini untuk temani putrinya yang barusan diterima di University of Wollongong ambil program doktor, dalam bagian pendidikan. Sebetulnya putrinya telah menikah. Menantunya ialah seorang polisi di Arab Saudi.

Ia menyengaja turut kesini untuk temani sang putri. Putrinya itu, walau telah menikah, harus ada yang mendampinginya. Tidak bisa dibiarkan sendirian di sini meskipun telah dewasa atau telah berkeluarga. Mengingat suami sang putri ialah polisi yang masih bekerja, belum dapat hadir kesini. Hingga sang bapak barusan yang ikhlas turut menemaninya.

Buat kita, walau sama-sama Islam, kemungkinan itu berasa aneh. Khususnya buat mereka yang telah berpikiran “maju”. Kenapa harus ditemani? Ditambah lagi telah besar, telah berkeluarga. Negara yang aman serta tidak kalut. Kita berpikir jika sebaiknya si putri dibiarkan saja sendirian di sini.

Nyatanya mereka memang memiliki pemikiran lain. Dalam Islam memang sebetulnya tidak bisa seorang wanita keluar rumah tanpa ada pendamping, tanpa ada izin. Tapi saat ini, kita memandang hal tersebut, pada jaman saat ini telah aman, tidak ada permasalahan. Hingga bisa saja wanita dapat pergi sendiri, terhitung sekolah di luar negeri.

Di Arab Saudi, ketetapan itu dikit demi sedikit telah mulai longgar. Telah ada pergerakan hak asasi manusia yang berupaya perjuangkan kebebasan wanita. Contohnya menyopir kendaraan, seorang wanita telah diperbolehkan. pergi sekolah ke luar negeri, telah ada yang mengerjakannya.

Walaupun begitu buat bapak ini serta keluarganya, masih belum terima seutuhnya. Mereka masih berpatokan pada ajaran agama Islam atau mungkin budaya Arab Saudi sejauh ini yang mereka yakini, jika seorang wanita yang keluar, harus dibarengi mahramnya.

Berikut kepercayaan beberapa umat Islam. Kepercayaan beberapa masyarakat Arab Saudi yang masih digenggam serta diamalkan. Pasti jadi kepercayaan, harus dihormati. Harus diterima, seperti mereka harus terima opini yang tidak sama.

Satu hal , saat saya meminta izin photo bersama dengan, beliau sudi. Dengan ketentuan jangan dimediakan (dengan fulgar). Itu penyebabnya kenapa muka Syekh ini menyengaja saya tutup jadi bentuk penghormatan padanya. Namanya juga tidak saya katakan dalam artikel ini.

Share pengalaman serta hikmah ialah suatu hal yang baik. Jadi pelajaran buat sama-sama. Insya Allah.
  


Messages In This Thread
Perempuan dan Budaya Arab Saudi - by fayra - 01-12-2020, 04:35 PM

Forum Jump:


Users browsing this thread:
1 Guest(s)