Forum Komunikasi Focal Point PUG
Berkebudayaan ala Gus Dur - Printable Version

+- Forum Komunikasi Focal Point PUG (http://forkomfppug.dp3akb.jabarprov.go.id)
+-- Forum: Topik (http://forkomfppug.dp3akb.jabarprov.go.id/forumdisplay.php?fid=1)
+--- Forum: Opini (http://forkomfppug.dp3akb.jabarprov.go.id/forumdisplay.php?fid=7)
+--- Thread: Berkebudayaan ala Gus Dur (/showthread.php?tid=313)



Berkebudayaan ala Gus Dur - fayra - 01-12-2020

Haul satu dekade Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada pengujung Desember 2019 baru saja saja berlalu. Teladan Gus Dur dalam kerangka memaknai jabatan serta kekuasaan dan perjuangan di bagian kebudayaan serta kemanusiaan jadi inti perbincangan dalam haul ke-10 itu.

Salah satunya kalimat Gus Dur yang shalat jamak qashar seringkali diambil ialah ”tidak ada jabatan di dunia ini yang penting dipertahankan mati-matian”. Gus Dur tidak sebatas bicara. Dia menunjukkan arti kalimat itu saat dia dilengserkan dari jabatan presiden.

Greg Barton dalam buku Biografi Gus Dur (2003: 480-481) tuliskan kondisi mendekati pelengseran Gus Dur. Saat itu massa simpatisan Gus Dur yang sejumlah beberapa ribu orang sudah ”siap mati” menjaga jabatan Gus Dur jadi presiden serta bergabung di seputar istana kepresidenan.

Kecemasan akan berlangsung perang antarmassa simpatisan Gus Dur dengan mereka yang inginkan Gus Dur mundur semakin kuat. Kecemasan itu, seperti yang sudah kita tahu, urung berlangsung.

Gus Dur dengan legawa melepas jabatan presiden. Sesudah dia keluar dari istana kepresidenan, dia mendatangi Lapangan Merdeka di seberang istana. Disana dia menyampaikan pidato di depan beberapa ribu orang yang emosional serta datang dari beberapa puluh organisasi.

Gus Dur mengutamakan pentingnya meredam diri dan bersumpah untuk meneruskan perjuangan yang panjang sampai reformasi di luar istana. Kita dapat memikirkan kalau Gus Dur malah saat itu mati-matian menjaga jabatannya, serta dengan mengorbankan massa simpatisan yang sudah “siap mati” untuk memberi dukungan dianya, seperti yang banyak berlangsung dalam beberapa cerita persaingan perebutan serta pengalihan kekuasaan.

Gus Dur bisa menjaga kekuasaan dengan mengorbankan banyak nyawa, tetapi Gus Dur selanjutnya pilih terima pencabutan dianya dari jabatan presiden. Dia tidak menjaga jabatan itu. Buat Gus Dur yang lebih penting dari politik ialah kemanusiaan.

Ini pasti tidak terlepas dari prinsip yang digenggam Gus Dur jadi seorang santri. Dalam kitab Maqasid Syari’at yang di ajarkan di pesantren ada banyak aturan yang diantaranya yaitu mengeluarkan bunyi dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbi al-masholih. Menghindari kerusakan lebih diprioritaskan dibanding memperoleh faedah.

Kemanusiaan

Dalam kerangka Gus Dur serta jabatan presiden, Gus Dur pilih menghindari diri dari kerusakan, yaitu perselisihan bangsa, dibanding memperoleh faedah kekuasaan. Mungkin teladan ini makin jarang-jarang kita temukan. Sekarang lebih beberapa orang berebutan kuasa tanpa ada memperhatikan mengakibatkan.

Sesudah tidak memegang jadi presiden, Gus Dur selanjutnya lebih aktif dalam pendampingan rakyat. Dia aktif dalalam usaha merajut diskusi antarkelompok di ranah kebudayaan, keagamaan, berkebangsaan, atau forum-forum lain yang sentuh warga akar rumput. Laris Gus Dur demikian ini berbuntut pada kemanusiaan.

Yang dikerjakan Gus Dur ini sebenarnya meneruskan yang sudah dia sejak mulai sebelum jadi presiden. Gus Dur diketahui jadi tokoh yang punya ciri-ciri setia dalam perjuangan menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.

Nilai-nilai kemanusian yang diperjuangkan Gus Dur berikut yang selanjutnya jadi ide kuat dalam acara rembuk budaya jadi salah satunya serangkaian acara peringatan satu dekade haul Gus Dur.

Rembuk budaya itu membuahkan 10 referensi, salah satunya kebudayaan harus melestarikan kemanusiaan dengan mengusung pergumulan kemanusiaan, terutamanya pengalaman hidup barisan rawan/lemah seperti wanita, penghayat keyakinan, dan sebagainya.

Pergerakan serta kebijaksanaan kebudayaan diinginkan bisa dikerjakan dengan membuat ekosistem kebudayaan yang partisipatoris hingga peningkatan kebudayaan tidak tumbuh jadi elitisme kebudayaan.

Untuk wujudkan hal itu, negara harus ada jadi fasilitator dalam tata atur kebudayaan atau dengan memberi agunan perlindungan berekspresi serta suport sumber daya untuk pergerakan kebudayaan berbentuk akses, sarana, serta ruangan.

Kolaborasi Negara serta Warga

Kedatangan negara ini penting mengingat keadaan kebudayaan sekarang alami ”pemberangusan”, seperti larangan upacara tradisi, penghancuran patung, terhitung yang berlangsung di Kota Solo berbentuk penghancuran bangunan yang mempunyai potensi jadi bangunan cagar budaya di Kepatihan atau penghilangan gambar di muka Balai Kota Solo.

Kedatangan negara berbentuk kebijaksanaan serta taktik budget dan implementasi dengan mendalam sampai pada tingkat pemerintahan wilayah. Negara butuh tinggalkan modal ekonomi ekstraktif yang mengorbankan keberlanjutan ekologi serta mulai menggali kekuatan ekonomi yang berbasiskan pengetahuan tradisionil serta kearifan lokal.

Sinergisitas gerak di antara negara serta warga jadi penting. Negara serta warga harus memprioritaskan pendekatan kebudayaan dalam pengendalian keberagaman serta instrumen resolusi perselisihan. Keduanya diperlukan dalam membuat modal praktik keberagaman yang kontekstual dengan budaya Indonesia. Agama serta budaya tidak sama-sama menaklukkan.

Beberapa referensi yang lain ialah kebudayaan butuh dimaksimalkan jadi langkah menumbuhkan daya gawat pada kekuasaan untuk mengurangi pragmatisme serta apatisme politik. Skema pendidikan harus bisa jadi wahana peningkatan kekuatan kemanusiaan supaya tidak dikontrol oleh tehnologi tapi kuasai tehnologi lewat khazanah pengetahuan serta budaya.