Forum Komunikasi Focal Point PUG

Full Version: Inilah Tujuh Poin Refleksi Akhir Tahun 2019 ILFC, Dua Poin Mendesak Dilakukan Negara
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Tahun 2019 lalu ditutup Indonesian Feminist Lawyer Klub (IFLC) dengan beberapa catatan, khususnya berkaitan dengan perlakuan kekerasan pada wanita serta anak.

Catatan itu dirangkum IFLC jadi instansi yang konsern pada perlakuan kekerasan pada wanita serta anak ini dalam tujuh point hasil Diskusi Publik Refleksi Akhir Tahun IFLC 2019 bertopik 'Kekerasan Pada Wanita serta Anak Dalam Dimensi Peraturan serta Implementasi Hukum'.

"Tujuh point catatan ini kami berikan berbentuk surat pada Presiden Jokowi, Mahkamah Agung, DPR, Menteri PPPA, Komnas Wanita, KPAI, Jaksa Agung serta Kapolri," tutur Ketua Biasa IFLC, Nur Setia Alam Prawiranegara di Jakarta, Sabtu (10/1).

Dari tujuh point itu, IFLC menyorot dua point penting yang menekan untuk selekasnya dikerjakan oleh negara.

Point pertama, menekan supaya RUU khutbah jum'at bulan rajab Penghilangan Kekerasan selekasnya jadi Undang-undang (UU) supaya perlakuan kekerasan pada wanita serta anak bisa terimplementasi secara baik.

"Kita perlu itu, KDRT akhir-akhir ini menguasai. Kita masih lihat perlakuan kekerasan pada wanita serta anak masih dianggap remeh. Tidak ada tekad pelaksana negara mengakhirinya," tutur Nur.

Point ke-2, ILFC mereferensikan terdapatnya Direktorat sendiri buat cybercrime serta Perlakuan Wanita serta Anak di kepolisian. Ini ditujukan untuk memberi suport penuh serta mempermudah proses perlakuan kekerasan pada wanita serta anak.

"Sejauh ini penyelesaian masalah kekerasan pada wanita serta anak terganggu birokrasi. Hasil dari diskusi tempo hari, kita setuju di antara Cyber serta PPA dipisah," tutur Nur.

Lalu, adakah deadline spesial berkaitan surat yang diantar ke beberapa lembaga negara ini?

"Kita terus bersurat serta terus lakukan advokasi perlakuan kekerasan pada wanita serta anak. Hal itu akan membuat apa yang kita perjuangkan terus kelihatan," tandas Nur.

Berikut tujuh point referensi Refleksi Akhir Tahun ILFC 2019:

1. Kami setuju menampik semua bentuk kekerasan pada wanita serta anak dalam semua memiliki bentuk.

2. Kami setuju untuk memberi perhatian pertolongan serta perlakuan hukum serta perlakuan hukum dengan semua lembaga berkaitan/aparat penegak hukum, advokat, kepolisian, kejaksaan serta hakim.

3. Kami setuju untuk menerapkan semua bentuk ketentuan hukum jadi piranti penting dalam perlakuan beberapa kasus kekerasan pada wanita serta anak terutamanya mondorong RUU PENGHAPUSAN KEKERASAN jadi Undang-undang hingga perlakuan kekerasan teehadap wanita serta anak semakin lebih bisa terimplementasi baik.

4. Kami setuju untuk minta perhatian lebih dari negara melalui aparat penegak hukum yang berdasar data yang didapat, kejahatan cyber makin bertambah, khusulnya yang menyebabkan keberulangan dalam kekerasan pada wanita serta anak.

5. Kami siap untuk mereferensikan terdapatnya Direktorat tertentu buat cybercrime serta Perlakuan Wanita serta Anak untuk memberi suport penuh serta mempermudah proses perlakuan kekerasan pada wanita serta anak.

6. Kami setuju untuk tingkatkan sinergitas antara lembaga berkaitan dalam hubungan dengan perlakuan kekerasan pada wanita serta anak.

7. Kami setuju untuk dilakukanya training di semua barisan aparat penegak hukum mengenai kekerasan berbasiskan gender atau kesetaraan gender